Mulai dari satu mesin di rumah ibu.
Tahun 2019, Vania — pendiri Nigoo — beli mesin rajut bekas dengan tabungan dari kerja paruh waktu. Dia ingin bikin cardigan yang nyaman dipakai sehari-hari, yang tidak gatal, dan yang tidak melar setelah dicuci tiga kali. Cardigan oat pertama itu masih kami simpan di studio.


Perjalanan kami
- 2019
Satu mesin, satu meja
Nigoo dimulai di garasi rumah ibu di Bandung. Mesin rajut bekas, benang katun-viscose, dan satu cardigan oat pertama yang dijual lewat Instagram.
- 2020
Pesanan pertama dari luar kota
Pandemi datang, dan ternyata banyak yang cari pakaian rumahan yang tetap rapi. Pesanan dari Jakarta, Surabaya, sampai Makassar mulai masuk.
- 2022
Pindah ke studio kecil
Tim bertumbuh jadi 5 perajin. Kami pindah ke rumah dua lantai di Bandung Utara — bawah untuk produksi, atas untuk packing.
- 2024
Komunitas 700 ribu
TikTok jadi tempat banyak teman baru menemukan kami. Bukan untuk viral — tapi untuk cerita pelan tentang bahan dan perawatan rajut.
- 2026
Rumah sendiri di nigoo.id
Setelah bertahun-tahun di marketplace, kami buka pintu sendiri. Tempat di mana cerita, bahan, dan rajut bisa berdampingan dengan tenang.
"Kami bukan brand yang cepat. Tiap potong butuh waktu dua sampai tiga jam untuk dirajut. Kalau kamu pakai Nigoo lima tahun ke depan — itu cukup buat kami."